
Kupon tersebut lahir dari pemikiran
pebisnis asal Atlanta, Asa Candler. Penemuan Candler ini mengubah Coca
Cola dari bisnis yang tidak diperhitungkan sebelumnya di industri
minuman ringan menjadi perusahaan yang memimpin pasar. Tulisan tangannya
terdapat pada kupon itu. Awalnya kupon itu menawarkan Coca Cola gratis
lalu beranjak menjadi voucher diskon yang menawarkan harga murah untuk
memperoleh minuman soda itu seharga 5 sen. Di antara tahun 1894 dan
1913, diperkirakan satu dari sembilan orang Amerika telah menerima Coca
Cola gratis, dengan total 8,5 juta minuman.
Pada
awal 1900-an, kupon berkembang menjadi voucher diskon dan mewabah
menjadi strategi marketing yang terbukti bisa meningkatkan penjualan.
Kehadiran
voucher diskon ini kala itu sangat membantu warga Amerika pada saat
terjadi Great Depression, yang menjadi masa terkelam perekonomian
Amerika Serikat dalam sejarah hidupnya.
Keberadaan
voucher diskon tradisional – di mana seorang kustomer harus mendatangi
suatu tempat untuk memperolehnya -, semakin menyusut pada awal 1990-an.
Tepatnya pada tahun 1992, tercatat 7,9 milyar program diskon dilakukan
melalui kupon di Amerika Serikat.
Penyusutan
ini akibat keberadaan voucher diskon elektronik. Seperti kita ketahui
saat ini kupon diskon elektronik sedang mengalami kepopulerannya
terutama di Indonesia. Di negeri asalnya, Amerika Serikat, masa kejayaan
voucher diskon elektronik terjadi pada awal tahun 2000-an.
Seperti
apa masa depan voucher diskon elektronik belum bisa dipastikan. Tapi
tampaknya akan mengalami titik jenuhnya juga, seiring perkembangan
teknologi komunikasi terkini yang memungkinkan seorang customer membeli
kebutu*annya hanya dengan scanning kode khusus yang terdapat di ponsel
cerdasnya.
0 comments:
Post a Comment